Posts Tagged ‘manusia’

3 Jembatan Menuju
Negeri Ampunan
Oleh : Fier_arie

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ فَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan. Namun, sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah yang bertaubat.”(Hadits)

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Manusia tidak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan dan perbuatan dosa. Melakukan kesalahan adalah sebuah keniscayaan bagi anak cucu Adam. Pada diri mereka, bersemayam kelalaian dan kekhilafan. Seperti kata pepatah, “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.”
Tidak bisa dipungkiri. Bahwa, perjalanan manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, akan terbebas dari kesalahan dan selalu berada diatas kebenaran. Itu tidak mungkin terjadi. Terlalu banyak lubang, dan perangkap iblis untuk bisa terbebas dari jerat kesalahan. Terlebih, ambisi Iblis dan sekutunya yang akan selalu menggoda manusia untuk berbuat durhaka sampai hari kiamat kelak.
Dengan adanya dendam kesumat yang mengakar kuat di dalam jiwa Iblis, perjalanan manusia untuk selamat dari lubang kesalahan semakin mustahil. Bapak manusia, Nabi Adam  yang telah merasakan manisnya syurga dan hidup dibawah rahmat ilahy, juga pernah melakukan kesalahan. Dosa yang ia perbuat berakibat fatal. Nabi Adam  dikeluarkan dari syurga setelah memakan buah terlarang karena memenuhi bisikan Iblis dan hawa nafsu. Namun akhirnya beliau menyesal, dan memohon ampunan kepada Allah.
Manusia bukanlah seperti malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu. Malaikat diciptakan oleh Allah tanpa diperlengkap dengan perangkat “Syahwat”. Sehingga, tidak pernah terlintas di benak mereka untuk berbuat durhaka kepada Empunya. Mereka tidak akan pernah merasa capek, letih, atau bosan saat melaksanakan titah dari penguasa alam semesta ini.
Berbeda dengan malaikat. Manusia diciptakan dengan dilengkapi perangkat “Syahwat”. Sebuah perangakat yang akan selalu mendorong pemiliknya untuk berperilaku menyimpang dari aturan. Manusia seringkali mengikuti hawa nafsu. Padahal, apa yang diingini hawa nafsu selalu melenceng dari jalan yang lurus.
Namun, bukan manusia jika tidak dilengkapi dengan onderdil yang namanya “Akal”(hati nurani-pen). Dengan adanya akal, manusia bisa kembali tersadar saat dirinya berada diatas jalur yang salah. Akal yang sehat akan membantu manusia untuk bertempur melawan bujukan hawa nafsu. Sehingga, ia tetap berada diatas kebenaran.
Khilaf, gagal, berbuat dosa, itu merupakan hal yang lumrah bagi manusia. Karena manusia bukanlah malaikat. Namun, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang cepat sadar dan bertaubat. Kegagalan merupakan suatu hal yang biasa. Namun, bangkit dari kegagalan adalah suatu hal yang luar biasa. Berbuat dosa adalah sebuah kepastian. Namun, menyesal dan bertaubat adalah suatu keharusan.
Jalan menuju taubat
Kema’siatan, dan perbuatan dosa akan selalu mengusik jiwa pelakunya. Perasaan tidak tenang akan selalu bersemayam didalam kalbu. Hati yang bersih nan senantiasa diselimuti dengan perasaan gundah gulana, jika telah melakukan perbuatan durhaka.
Sejatinya, manusia selalu ingin berada diatas jalan yang lurus. Itulah sifat Fitroh manusia. Membenci keburukan, dan mencintai kebaikan. Hanya saja, terkadang bisikan hawa nafsu teramat kuat. Hingga menutupi akal dan hati nurani.
Berpaling dari hawa nafsu, tidaklah semudah membalikkan tangan. Berusaha menepi dari deru ombak di tengah lautan, bukanlah hal yang remeh. Jika keringat harus bercucuran, kucurkanlah. Jika darah harus tertumpah, tumpahkanlah. Karena, kembali ke jalan yang lurus membutuhkan energi yang sangat dahsyat dan mencurahkan banyak tenaga.
Pintu taubat (negeri ampunan) memiliki jalur khusus. Jika seseorang ingin mendapatkan ampunan Allah atas segala perbuatan dosanya, ia harus melalui jalur ini. Tidak sembarangan jalan bisa menghantarkan manusia sampai di negeri ampunan. Jika diibaratkan, perjalanan menuju negeri ampunan harus melalui 3 jembatan khusus. Jika tidak melewati tiga jembatan yang telah disediakan, sudah barang pasti ia akan tersesat entah ke mana.
Jembatan pertama adalah, “Jembatan Penyesalan”. Dengan menyesali perbuatan dosanya yang telah lalu, seseorang telah melewati jembatan pertama. Menyesal bukanlah sebuah tindakan yang menguras energi. Tapi, ia hanya sekedar perasaan bersalah yang bergemuruh dalam hati seseoarang, setelah ia melakukan perbuatan dosa.
Walupun hanya sekedar perasaan, banyak manusia yang tergelincir di jembatan ini. Bukan jembatan penyesalan yang dilalui, tapi justru jembatan bangga. Perasaan menyesal di hati telah sirna, dan di ganti dengan perasaan bangga. Bangga akan perbuatan dosanya. Merasa senang dan enjoy atas perilaku buruknya. Jika bangga yang bersemayam di hatinya, maka ia tidak akan pernah sampai di negeri ampunan.
Jembatan kedua adalah, “Jembatan Perjanjian”. Dengan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya, maka ia telah melewati jembatan ini. Tentunya bukan sekedar janji yang diingkari. Tapi, janji yang ditepati.
Jembatan ini lebih licin dibanding jembatan yang pertama. Terbukti, banyak manusia yang tergelincir di jembatan “Perjanjian” ini. Begitu banyak menusia yang berjanji. Namun, banyak juga yang mengingkari. Bahkan, lupa dengan janji silamnya seiring berjalanya waktu.
Jembatan ketiga adalah, “Jembatan Azam (tekad)”. Dengan memiliki Azam dan tekad yang kuat, maka jembatan ketiga mudah untuk dilalui. Gunung yang menjulang tinggi akan mudah dilampaui, dengan tekad sepenuh hati.
Banyak manusia yang belum memiliki tekad sepenuh hati. Sehingga, cita-cita menuju negeri ampunan mudah runtuh hanya karena kerikil kecil. Mereka akan segera putus asa dari rahmat Allah, hanya karena rintangan yang tidak seberapa.
Sebenarnya, ketiga jembatan menuju negeri ampunan bisa dilalui bersamaan. Dengan sekali langkah, 3 jembatan terlampaui. Sesalilah perbuatan dosa, milikilah tekad yang kuat, dan berjanjilah untuk tidak mengulangi. Niscaya, anda akan menggapai ampunan ilahy atas kehendakNya.
Tapakilah jalan menuju negeri ampunan, dan jangan kau tunggu kedatangannya. Karena, ia menantimu di sebrang sana. Ingatlah bahwa ampunan Allah sangat luas. Seluas langit dan bumi. Allah pasti akan mengampuni segala dosa hambanya. Asalkan ia mau menyadari kesalahannya, dan bertaubat dengan benar. Sebagaimana janji Allah dalam sebuah hadits Qudsy; “…wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sebanyak awan dilangit. Kemudian engkau meminta ampun kepadaku. Niscaya akan aku ampuni”.(HR.Tirmidzi)

Iklan

“Man is masure of all things”.

Memang benar, manusia berhak untuk turut serta dalam beraspirasi.  Manusia memiliki hak untuk mengeluarkan pendapatnya. Itulah mengapa Allah Sang Pencipta memberikan kelebihan kepada manusia berupa akal. Untuk berfikir, untuk memahami teks, untuk berijtihad, dan masih banyak lagi fungsi akal yang Allah anugerahkan kepada nabi adam dan keturunannya. Sekali lagi anak cucu Adam yang memiliki akal. Bukan revolusi dari Apes, bangsa kera. He…

Manusia berhak untuk mengeluarkan unek-unek yang ada di kepalanya. Hanya saja, apa yang berasal dari logika manusia tidaklah absolute. Artinya, tidak sepenuhnya benar. Bisa benar, bisa juga salah. Tidak baku, alias bersifat dinamis. Oleh karena itu tidak semestinya kita memegang teguh statement yang berasal dari logika manusia murni. “Pokoke, kalau yang berpendapat si Profesor … saya akan mengikutinya”. Atau, “Kalau bukan Pak Kyai anu yang memberi jawaban, saya belum yakin”. Nah, model-model pikiran semacam itu harus segera dihilangkan dari memory otak kita. Gak bener itu…

Kaidah relativisme hanya berlaku bagi logika manusia. Hanya boleh diterapkan pada pendapat-pendapat yang berasal dari otak manusia. Kebenaran mutlak hanya berasal dari Allah yang berupa wahyu kepada para utusan-Nya. Hanya saja, kaidah Relativisme yang sejatinya hanya berlaku bagi pikiran-pikiran para hamba, dipaksakan oleh orang-orang Liberal untuk diberlakukan kepada wahyu Ilahy. Kalau seperti itu ya jelas ngawur. Mau menggugat, kok yang digugat wahyu Ilahy.

Adakalanya kita tidak mengetahui apa tujuan Allah yang tertuang dalam wahyu-Nya. Tapi ketidak tahuan kita, bukan berarti kita diperbolehkan menggugat Sang pemilik alam semesta. Bisa jadi sableng kalau kita memaksakan diri untuk menguak rahasia yang terpendam dalam aturan-aturan Ilahy. Kecuali kalau Allah telah memberikan sedikit penjelasan yang akan menghantarkan kita kepada pengetahuan tersebut. Setinggi apa pun logika manusia, tetap tidak akan mampu mencapai menaranya ilmu Allah. kalau kita tidak diberi keleluasaan untuk menguak tabir itu, ya jangan memaksakan diri.

Hari ini virus relativisme sudah semakin marak dan dianut oleh berbagai kalangan. Di Indonesia sendiri banyak orang-orang Islam yang terkena pemahaman relativisme. Dan akhirnya, banyak orang-orang yang beranggapan bahwa kebenaran itu relative. “itukan menurut Anda! Menurut saya, boleh-boleh saja…”.

Dampak dari berkembangnya paham Relativisme, tidak berlakunya hukum yang telah ditetapkan dalam sebuah Negara. Akan muncul berbagai kelompok dengan aturan maian seenak mereka sendiri. Tidak mengindahkan norma-norma agama yang dianut. Dan Islam memiliki konsep relativisme yang bisa mencegah manusia dari membuat aturan main sendiri-sendiri. Yakni dengan adanya konsep Tsawabit wal mutaghayirat. Ada beberapa perkara yang Tsabit, baku. Ada juga yang mutaghayirat, dinamis, bisa berubah.

Nah, baku dan dinamis merupakan dualisme yang selalu ada. Seperti atas-bawah, kanan-kiri, baik-buruk, pria-wanita, dan lain-lain. kalau ada baku, pasti ada dinamis. Istilah kerennya, Tsawabit wal mutaghayirat. Tsabit itu untuk perkara-perkara yang inti, ushul, hukum, dan keyakinan. Sedangkan Taghayur itu untuk perkara-perkara cabang, fasilitas, operasional, dan alat. Seperti halnya, hukum jihad. Jihad itu sudah paten. Tidak bisa lagi diganggu gugat asal hukumnya. Akan tetapi operasionalnya boleh berubah. Strategi, fasilitas perang, pemilihan tempat dan waktu yang tepat. Jihad itu wajib. Tapi tidak harus dilakukan sekarang kalau belum mampu. Susunlah strategi dan persiapkan segala keperluannya dengan matang. Tidak perlu tergesa-gesa kalau toh akhirnya merugikan banyak pihak. Lebih baik menunggu lama sedikit dengan sabar, tapi memberikan maslahat yang banyak. Karena ditetapkannya syairat jihad itu untuk menjaga darah kaum muslimin dari tangan-tangan najis.

Mutaghayirat, atau yang biasa kita sebut dengan dinamis, juga terjadi dalam penentuan prioritas amal. Dan masing-masing kepala memiliki prioritas amal yang berbeda-beda. Ada yang mendahulukan I,dad & jihad, ada yang mendahulukan dakwah & diklat, ada yang memilih dakwah melalui parlemen, ada juga yang selalu mendengungkan penegakan khilafah. Perbedaan pendapat untuk menentukan prioritas amal adalah salah satu kenyataan yang harus dihadapi oleh umat Islam. Dan tentunya yang demikian tidak masalah selama mereka tidak saling menjatuhkan satu jama’ah dengan jamaah yang lain. Asalkan tidak mengklaim bahwa jamaah diluar kelompoknya salah, atau bahkan dinyatakan kafir, itu tidak mengapa. Karena prioritas amal merupakan sesuatu yang not obsolutly. Relative, tidak mesti benar orang yang mengatakan ini. dan tidak mesti salah orang yang mengatakan itu. Pertimbangannya berdasarkan untung-rugi, maslahat-madharat, efisien waktu & energy, dan efektif kinerja.

Tidak perlu buang-buang energy hanya untuk merubah yang sudah baku. Tidak perlu ngotot hanya untuk mempertahankan sesuatu yang relative. Yang baku, biarlah tetap istimewa dengan ke-bakuannya. Dan yang dinamis, biarlah tetap special dengan ke-dinamisannya. Ikuti aturan-aturan yang baku dan berkreasilah pada hal-hal yang dinamis. Hemat tenaga, pikiran tetap berkembang. (Wallahu a’lam). by : Fier_arie