3 jembatan menuju negeri impian

Posted: Oktober 12, 2010 in Uncategorized
Tag:, , , , , , , , , , , , ,

3 Jembatan Menuju
Negeri Ampunan
Oleh : Fier_arie

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ فَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pernah melakukan kesalahan. Namun, sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah yang bertaubat.”(Hadits)

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Manusia tidak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan dan perbuatan dosa. Melakukan kesalahan adalah sebuah keniscayaan bagi anak cucu Adam. Pada diri mereka, bersemayam kelalaian dan kekhilafan. Seperti kata pepatah, “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.”
Tidak bisa dipungkiri. Bahwa, perjalanan manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, akan terbebas dari kesalahan dan selalu berada diatas kebenaran. Itu tidak mungkin terjadi. Terlalu banyak lubang, dan perangkap iblis untuk bisa terbebas dari jerat kesalahan. Terlebih, ambisi Iblis dan sekutunya yang akan selalu menggoda manusia untuk berbuat durhaka sampai hari kiamat kelak.
Dengan adanya dendam kesumat yang mengakar kuat di dalam jiwa Iblis, perjalanan manusia untuk selamat dari lubang kesalahan semakin mustahil. Bapak manusia, Nabi Adam  yang telah merasakan manisnya syurga dan hidup dibawah rahmat ilahy, juga pernah melakukan kesalahan. Dosa yang ia perbuat berakibat fatal. Nabi Adam  dikeluarkan dari syurga setelah memakan buah terlarang karena memenuhi bisikan Iblis dan hawa nafsu. Namun akhirnya beliau menyesal, dan memohon ampunan kepada Allah.
Manusia bukanlah seperti malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu. Malaikat diciptakan oleh Allah tanpa diperlengkap dengan perangkat “Syahwat”. Sehingga, tidak pernah terlintas di benak mereka untuk berbuat durhaka kepada Empunya. Mereka tidak akan pernah merasa capek, letih, atau bosan saat melaksanakan titah dari penguasa alam semesta ini.
Berbeda dengan malaikat. Manusia diciptakan dengan dilengkapi perangkat “Syahwat”. Sebuah perangakat yang akan selalu mendorong pemiliknya untuk berperilaku menyimpang dari aturan. Manusia seringkali mengikuti hawa nafsu. Padahal, apa yang diingini hawa nafsu selalu melenceng dari jalan yang lurus.
Namun, bukan manusia jika tidak dilengkapi dengan onderdil yang namanya “Akal”(hati nurani-pen). Dengan adanya akal, manusia bisa kembali tersadar saat dirinya berada diatas jalur yang salah. Akal yang sehat akan membantu manusia untuk bertempur melawan bujukan hawa nafsu. Sehingga, ia tetap berada diatas kebenaran.
Khilaf, gagal, berbuat dosa, itu merupakan hal yang lumrah bagi manusia. Karena manusia bukanlah malaikat. Namun, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang cepat sadar dan bertaubat. Kegagalan merupakan suatu hal yang biasa. Namun, bangkit dari kegagalan adalah suatu hal yang luar biasa. Berbuat dosa adalah sebuah kepastian. Namun, menyesal dan bertaubat adalah suatu keharusan.
Jalan menuju taubat
Kema’siatan, dan perbuatan dosa akan selalu mengusik jiwa pelakunya. Perasaan tidak tenang akan selalu bersemayam didalam kalbu. Hati yang bersih nan senantiasa diselimuti dengan perasaan gundah gulana, jika telah melakukan perbuatan durhaka.
Sejatinya, manusia selalu ingin berada diatas jalan yang lurus. Itulah sifat Fitroh manusia. Membenci keburukan, dan mencintai kebaikan. Hanya saja, terkadang bisikan hawa nafsu teramat kuat. Hingga menutupi akal dan hati nurani.
Berpaling dari hawa nafsu, tidaklah semudah membalikkan tangan. Berusaha menepi dari deru ombak di tengah lautan, bukanlah hal yang remeh. Jika keringat harus bercucuran, kucurkanlah. Jika darah harus tertumpah, tumpahkanlah. Karena, kembali ke jalan yang lurus membutuhkan energi yang sangat dahsyat dan mencurahkan banyak tenaga.
Pintu taubat (negeri ampunan) memiliki jalur khusus. Jika seseorang ingin mendapatkan ampunan Allah atas segala perbuatan dosanya, ia harus melalui jalur ini. Tidak sembarangan jalan bisa menghantarkan manusia sampai di negeri ampunan. Jika diibaratkan, perjalanan menuju negeri ampunan harus melalui 3 jembatan khusus. Jika tidak melewati tiga jembatan yang telah disediakan, sudah barang pasti ia akan tersesat entah ke mana.
Jembatan pertama adalah, “Jembatan Penyesalan”. Dengan menyesali perbuatan dosanya yang telah lalu, seseorang telah melewati jembatan pertama. Menyesal bukanlah sebuah tindakan yang menguras energi. Tapi, ia hanya sekedar perasaan bersalah yang bergemuruh dalam hati seseoarang, setelah ia melakukan perbuatan dosa.
Walupun hanya sekedar perasaan, banyak manusia yang tergelincir di jembatan ini. Bukan jembatan penyesalan yang dilalui, tapi justru jembatan bangga. Perasaan menyesal di hati telah sirna, dan di ganti dengan perasaan bangga. Bangga akan perbuatan dosanya. Merasa senang dan enjoy atas perilaku buruknya. Jika bangga yang bersemayam di hatinya, maka ia tidak akan pernah sampai di negeri ampunan.
Jembatan kedua adalah, “Jembatan Perjanjian”. Dengan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosanya, maka ia telah melewati jembatan ini. Tentunya bukan sekedar janji yang diingkari. Tapi, janji yang ditepati.
Jembatan ini lebih licin dibanding jembatan yang pertama. Terbukti, banyak manusia yang tergelincir di jembatan “Perjanjian” ini. Begitu banyak menusia yang berjanji. Namun, banyak juga yang mengingkari. Bahkan, lupa dengan janji silamnya seiring berjalanya waktu.
Jembatan ketiga adalah, “Jembatan Azam (tekad)”. Dengan memiliki Azam dan tekad yang kuat, maka jembatan ketiga mudah untuk dilalui. Gunung yang menjulang tinggi akan mudah dilampaui, dengan tekad sepenuh hati.
Banyak manusia yang belum memiliki tekad sepenuh hati. Sehingga, cita-cita menuju negeri ampunan mudah runtuh hanya karena kerikil kecil. Mereka akan segera putus asa dari rahmat Allah, hanya karena rintangan yang tidak seberapa.
Sebenarnya, ketiga jembatan menuju negeri ampunan bisa dilalui bersamaan. Dengan sekali langkah, 3 jembatan terlampaui. Sesalilah perbuatan dosa, milikilah tekad yang kuat, dan berjanjilah untuk tidak mengulangi. Niscaya, anda akan menggapai ampunan ilahy atas kehendakNya.
Tapakilah jalan menuju negeri ampunan, dan jangan kau tunggu kedatangannya. Karena, ia menantimu di sebrang sana. Ingatlah bahwa ampunan Allah sangat luas. Seluas langit dan bumi. Allah pasti akan mengampuni segala dosa hambanya. Asalkan ia mau menyadari kesalahannya, dan bertaubat dengan benar. Sebagaimana janji Allah dalam sebuah hadits Qudsy; “…wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sebanyak awan dilangit. Kemudian engkau meminta ampun kepadaku. Niscaya akan aku ampuni”.(HR.Tirmidzi)

Komentar
  1. fier_arie mengatakan:

    terimakasih bro, dah mau ikutan ngeblog.
    perbanyak tulisan2 yang islamy ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s