Dinamis, bukan Relativisme

Posted: Oktober 9, 2010 in Uncategorized
Tag:, , , , , , , , , ,

“Man is masure of all things”.

Memang benar, manusia berhak untuk turut serta dalam beraspirasi.  Manusia memiliki hak untuk mengeluarkan pendapatnya. Itulah mengapa Allah Sang Pencipta memberikan kelebihan kepada manusia berupa akal. Untuk berfikir, untuk memahami teks, untuk berijtihad, dan masih banyak lagi fungsi akal yang Allah anugerahkan kepada nabi adam dan keturunannya. Sekali lagi anak cucu Adam yang memiliki akal. Bukan revolusi dari Apes, bangsa kera. He…

Manusia berhak untuk mengeluarkan unek-unek yang ada di kepalanya. Hanya saja, apa yang berasal dari logika manusia tidaklah absolute. Artinya, tidak sepenuhnya benar. Bisa benar, bisa juga salah. Tidak baku, alias bersifat dinamis. Oleh karena itu tidak semestinya kita memegang teguh statement yang berasal dari logika manusia murni. “Pokoke, kalau yang berpendapat si Profesor … saya akan mengikutinya”. Atau, “Kalau bukan Pak Kyai anu yang memberi jawaban, saya belum yakin”. Nah, model-model pikiran semacam itu harus segera dihilangkan dari memory otak kita. Gak bener itu…

Kaidah relativisme hanya berlaku bagi logika manusia. Hanya boleh diterapkan pada pendapat-pendapat yang berasal dari otak manusia. Kebenaran mutlak hanya berasal dari Allah yang berupa wahyu kepada para utusan-Nya. Hanya saja, kaidah Relativisme yang sejatinya hanya berlaku bagi pikiran-pikiran para hamba, dipaksakan oleh orang-orang Liberal untuk diberlakukan kepada wahyu Ilahy. Kalau seperti itu ya jelas ngawur. Mau menggugat, kok yang digugat wahyu Ilahy.

Adakalanya kita tidak mengetahui apa tujuan Allah yang tertuang dalam wahyu-Nya. Tapi ketidak tahuan kita, bukan berarti kita diperbolehkan menggugat Sang pemilik alam semesta. Bisa jadi sableng kalau kita memaksakan diri untuk menguak rahasia yang terpendam dalam aturan-aturan Ilahy. Kecuali kalau Allah telah memberikan sedikit penjelasan yang akan menghantarkan kita kepada pengetahuan tersebut. Setinggi apa pun logika manusia, tetap tidak akan mampu mencapai menaranya ilmu Allah. kalau kita tidak diberi keleluasaan untuk menguak tabir itu, ya jangan memaksakan diri.

Hari ini virus relativisme sudah semakin marak dan dianut oleh berbagai kalangan. Di Indonesia sendiri banyak orang-orang Islam yang terkena pemahaman relativisme. Dan akhirnya, banyak orang-orang yang beranggapan bahwa kebenaran itu relative. “itukan menurut Anda! Menurut saya, boleh-boleh saja…”.

Dampak dari berkembangnya paham Relativisme, tidak berlakunya hukum yang telah ditetapkan dalam sebuah Negara. Akan muncul berbagai kelompok dengan aturan maian seenak mereka sendiri. Tidak mengindahkan norma-norma agama yang dianut. Dan Islam memiliki konsep relativisme yang bisa mencegah manusia dari membuat aturan main sendiri-sendiri. Yakni dengan adanya konsep Tsawabit wal mutaghayirat. Ada beberapa perkara yang Tsabit, baku. Ada juga yang mutaghayirat, dinamis, bisa berubah.

Nah, baku dan dinamis merupakan dualisme yang selalu ada. Seperti atas-bawah, kanan-kiri, baik-buruk, pria-wanita, dan lain-lain. kalau ada baku, pasti ada dinamis. Istilah kerennya, Tsawabit wal mutaghayirat. Tsabit itu untuk perkara-perkara yang inti, ushul, hukum, dan keyakinan. Sedangkan Taghayur itu untuk perkara-perkara cabang, fasilitas, operasional, dan alat. Seperti halnya, hukum jihad. Jihad itu sudah paten. Tidak bisa lagi diganggu gugat asal hukumnya. Akan tetapi operasionalnya boleh berubah. Strategi, fasilitas perang, pemilihan tempat dan waktu yang tepat. Jihad itu wajib. Tapi tidak harus dilakukan sekarang kalau belum mampu. Susunlah strategi dan persiapkan segala keperluannya dengan matang. Tidak perlu tergesa-gesa kalau toh akhirnya merugikan banyak pihak. Lebih baik menunggu lama sedikit dengan sabar, tapi memberikan maslahat yang banyak. Karena ditetapkannya syairat jihad itu untuk menjaga darah kaum muslimin dari tangan-tangan najis.

Mutaghayirat, atau yang biasa kita sebut dengan dinamis, juga terjadi dalam penentuan prioritas amal. Dan masing-masing kepala memiliki prioritas amal yang berbeda-beda. Ada yang mendahulukan I,dad & jihad, ada yang mendahulukan dakwah & diklat, ada yang memilih dakwah melalui parlemen, ada juga yang selalu mendengungkan penegakan khilafah. Perbedaan pendapat untuk menentukan prioritas amal adalah salah satu kenyataan yang harus dihadapi oleh umat Islam. Dan tentunya yang demikian tidak masalah selama mereka tidak saling menjatuhkan satu jama’ah dengan jamaah yang lain. Asalkan tidak mengklaim bahwa jamaah diluar kelompoknya salah, atau bahkan dinyatakan kafir, itu tidak mengapa. Karena prioritas amal merupakan sesuatu yang not obsolutly. Relative, tidak mesti benar orang yang mengatakan ini. dan tidak mesti salah orang yang mengatakan itu. Pertimbangannya berdasarkan untung-rugi, maslahat-madharat, efisien waktu & energy, dan efektif kinerja.

Tidak perlu buang-buang energy hanya untuk merubah yang sudah baku. Tidak perlu ngotot hanya untuk mempertahankan sesuatu yang relative. Yang baku, biarlah tetap istimewa dengan ke-bakuannya. Dan yang dinamis, biarlah tetap special dengan ke-dinamisannya. Ikuti aturan-aturan yang baku dan berkreasilah pada hal-hal yang dinamis. Hemat tenaga, pikiran tetap berkembang. (Wallahu a’lam). by : Fier_arie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s