Donat untuk sahabat

Posted: Oktober 4, 2010 in Uncategorized
Tag:, , , , , ,

“Anak-anak…liburan semester ganjil besok, kita akan mengadakan camping di bumi perkemahan Tawangmangu Indah.” Bu Siska, wali kelas kami mengumumkan agenda liburan semesteran. Suasana kelas mendadak rame dengan sorak-sorai para murid kelas XI. Riuh keriangan saling bersaut-sautan.
Senyuman mentari pagi ikut hadir untuk menyapa mereka yang sedang ceria. Terukir di seluruh wajah tiap siswa guratan kebahagiaan. Mereka telah melayang dengan buaian imajinasi masing-masing. Melintas di benak mereka pesona alam perbukitan yang asri. Sejauh mata memandang hanya ada hijau-hijauan. Pohon pinus, cemara, dan semak belukar saling berlomba memperindah suasana. Tumbuh-tumbuhan berkolaborasi guna mempercantik hutan di bumi perkemahan.
Akupun asyik dengan khayalanku sendiri. Hutan belantara yang belum terjamah oleh manusia. Flora dan fauna yang sangat langka. Aku teringat dengan film-film barat yang bersetting hutan. Jurassic Park, The Lost World, Anaconda, dan…
”Mantap, sebentar lagi aku bakal jadi petualang hutan belantara.” Gumamku dalam hati. Aku juga asyik mengobrol dengan teman-temanku yang lain. Kami membincangkan perihal perbekalan, dan segala yang harus dipersiapkan untuk camping.
Disela-sela perbincangan, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Suasana riang masih melekat di wajah tiap siswa. Pandanganku terhenti ketika bola mataku mengarah pada sosok tubuh berambut ikal. Tak kudapati aura keceriaan di wajahnya. Ia tampak serius sedang memikirkan sesuatu. Aku tahu apa yang bersemayam di hatinya. Karena, selain ia teman satu kelas, ia juga tetanggaku. Aku yakin, ia pasti sedang memikirkan biaya untuk acara liburan semester.
Fadhli, satu-satunya siswa di kelasku yang kurang mampu. Ayahnya hanya seorang sopir bus metromini. Ibunya buruh nyuci di perumahan Griya Asri. Ia masuk di SMA Batik 1 karena mendapatkan beasiswa. Dia memang siswa yang cerdas. Nilainya pun selalu di atas rata-rata. Melihat lukisan muram yang terpampang di wajah Fadhli, akupun segera menghampirinya.
“Fadh…ko’ murung terus dari tadi?” aku membuka pertanyaan sambil menata posisi dudukku di bangku depannya yang kosong. Aku menatapnya lekat-lekat. Ia sedikit terkejut dengan kedatanganku.
“Eh, Aldi. Gak napa-napa ko’ Al…! Lagi gak enak badan aja.” Fadhli berusaha menutup-nutupi apa yang ada di benaknya.
“Bohong kamu Fadh…!”
“Sungguh Al…aku gak napa-napa.” Elak Fadhli sambil memamerkan sederet gigi-gigi putih dengan senyumnya yang terpaksa.
“Mukamu gak bisa ngebohongi aku Fadh. Kalau ada masalah cerita sama aku. Aku ini teman kamu. Mungkin aku bisa membantumu. Itu kalau kamu masih menganggap aku sebagai teman. Kalau nggak, ya gak papa.”
“Gak gitu maksudnya Al… Tapi…” Fadhli tidak melanjutkan kata-katanya.
“Tapi apa…?” Kejarku.
”Tapi… aku gak mau ngerepotin kamu.”
“Siapa yang direpoti? Justru aku seneng Fadh…! Kalau aku bisa membantu
seorang teman. Itu artinya, hidupku bermanfaat.” Jelasku padanya. Fadhli menghela napasnya perlahan penuh irama. Tak lama kemudian, ia menoleh ke arahku dan melabuhkan pandangannya tepat di mataku. Tatapannya mengisyaratkan tanda terima kasih dan harapan.
“Makasih Al…, sudah bersedia membantuku.” Ucapnya lirih sambil memegang kedua pundakku.
Aku berusaha meyakinkannya dengan meraih kedua tangan Fadhli dan menggenggamnya erat-erat. “You are welcome bro, kita kan sahabat. Terus, apa yang membuatmu tak bergairah begini?”
“Gini Al… sudah tiga hari ini, ibuku gak buruh nyuci. Dia sakit demam. Akhir-akhir ini penghasilan bapakku Cuma pas buat setoran. Aku gak sampai hati kalau harus meminta biaya camping sama orang tua.” Tutur Fadhli kepadaku.
“Ooo…jadi itu permasalahannya? Tenang bro…acaranya masih Senin depan. Kamu punya waktu satu minggu untuk nyari uang. Kita sudah besar. Sudah saatnya belajar mandiri. Iya gak…?”
“Nyari uang…? Kerja maksud kamu Al…!?”
“Ya iyalah, masak ngrampok!” Tukasku pada Fadhli.
“Hmm, bagus juga saranmu…tapi siapa yang mau menerima karyawan hanya untuk 6 hari?” Fadhli balik bertanya .
“Bukan jadi karyawan. Tapi, kita akan membuat pekerjaan.”
“Wah…keren juga tuch. Tapi, kerja apa…?” Jawab Fadhli sambil manggut-manggut.
“Begini Fadh…Pak Dheku punya industri donat. Nah, kita akan menjual donat yang kita ambil dari tempat Pak Dhe saya. Kita gak perlu jualan keliling. Cukup dititip-titpkan saja donat itu ke kantin-kantin sekolahan. Pagi ditaruh, sore kita ambil. Simpel kan?”
“Emm…aku terima usulanmu Al… Kapan kita ke tempat pak dhe kamu itu?”
“Nanti siang saja seusai sekolah. Lebih cepat lebih baik. Okey…?”
“Terserah kamu dech. Aku sich okey-okey saja!”

Matahari siang begitu terik. Membuat penghuni bumi menggeliat mencari tempat berteduh. Usai sekolah, aku dan Fadhli menerjang jalanan yang panas. Sengatan matahari yang membakar tak kami hiraukan. Tujuan kami adalah rumah Pak Dhe Tomo, Pak Dheku dari pihak ibu. Aku memacu kendaraanku dengan kencang. Bak pembalap di lintasan sirkuit, aku menyalip kendaraan dan mobil yang berlalu- lalang.
Melintas di jalan Slamet Riyadi yang cukup lebar dan lengang siang itu, spidometerku berkisar antara 80-100 km/jam arah barat. Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumahnya. Hanya membutuhkan waktu 10 menit kami sudah sampai di depan rumah Pak Dhe tomo.
Kami langsung mengetuk pintu dan mungucap salam. Sayup-sayup terdengar suara balasan dari balik pintu. ”krek-krek” dalam sekejap pintu terbuka. Berdiri di depan kami Pak Dhe Tomo dengan rambutnya yang memutih.
“Eee…nak Aldi. Dari mana? Mari masuk!” Ajak Pak Dhe setelah membukakan pintu.
“Dari sekolahan. Pak Dhe sehat-sehat saja?” Tanyaku pada Pak Dhe.
“Al-hamdulillah. Silahkan duduk. Lha ini siapa…?”
“Ini teman satu kelas saya Pak Dhe. Namanya Fadhli.” Fadhli tersenyum malu saat kusebutkan namanya.
“Ooo…Fadhli…, bagus juga namanya. Sebentar ya… Pak Dhe ambilkan minum dulu. Biar enak ngobrolnya.”
“Nggak usah repot-repot Pak Dhe! Kami cuma sebentar ko’.”
“Nggak papa, kaliankan habis panas-panasan.”
Setelah berbincang-bincang sesaat, aku pun mengutarakan niat dan rencana kami. Pak Dhe Tomo menyetujui dan memberikan kemudahan untuk membayar uang donat di akhir. Bahkan beliau bangga pada kita berdua. walaupun masih berstatus pelajar, kami tidak malu untuk belajar mandiri. “Seharusnya seperti itulah remaja hari ini. Memiliki etos kerja yang tinggi. Tidak hanya mengandalkan orang tua saja. Setidaknya bisa mengurangi beban mereka.” Puji Pak Dhe kepada kami. Kami menjadi lebih bersemangat mendengarkan penuturan Pak Dhe.
Ku tatap wajah Fadhli. Wajahnya kembali bersemi. Tatapannya penuh dengan semangat yang menggelora. Setelah berterima kasih kepada Pak Dhe, kami pun pulang. Kuantar Fadhli sampai di depan rumahnya.
“Fadh… sekarang giliran kamu…!” Ucapku padanya.
“Iya Al… thanks ya…? Aku berhutang budi sama kamu.” Balasnya sambil tersenyum.
“Gak usah dipikirin. Yang penting kamu harus berusaha, dan kalo ada masalah jangan segan-segan untuk berbagi sama aku. Mmm…aku pulang dulu ya…?”
“Gak mampir dulu nich…?”
“Makasih, dah sore.”
Belum sempat memacu kendaraanku dengan kencang, kuinjak pedal rem dan menoleh. “Oya, jangan lupa besok pagi! Kita ngambil donat bareng, sekalian berangkat sekolah.” Teriakku beberapa meter dari tempat dia berdiri.
“Okey bro…” Jawabnya sambil mengangkat tangan kanannya tinggi.

***

Embun pagi membasahi rerumputan yang hijau. Kicauan burung saling bersaut-sautan menyambut datangnya hari baru. Senyum mentari merekah di ujung timur. Memancarkan sinar menerangi sisi gelap dunia. Udara yang sejuk memenuhi setiap ruang hampa. Pagi yang indah, penuh dengan sensasi baru.
Begitu juga dengan kawanku yang datang sepagi ini. Rona wajahnya memancarkan semangat yang tinggi. Semangat untuk menyongsong lembaran baru. Aku tidak ingin membuatnya menunggu lama. “Bu’…berangkat dulu ya…” Setelah berpamitan dengan Ibu, kami pun meluncur. Bergabung dengan para pengguna jalan yang semakin rame.
Setelah mengambil beberapa kotak donat dari rumah Pak Dhe, kami segera mampir ke kantin-kantin sekolahan. Walaupun ada satu-dua kantin yang menolak, itu tidak masalah buat kami. Karena mayoritas menerima donat yang kami titipkan. Selain harganya yang terjangkau, kualitas juga terjamin. Hanya dengan harga 1.000 rupiah para pelajar bisa menikmati donat aneka rasa.
Usaha yang kami jalankan terhitung lancar. Donat-donat yang kami titipkan tak pernah menyisa. selalu habis disantap para pelajar yang kelaparan. Laba yang kami tuai cukup lumayan. Hanya lima hari berjualan donat, 150.000 rupiah ada digenggaman kami. Sisa 30.000 rupiah jika untuk membayar acara camping.
“Fadh…ini kamu pegang. Sisanya untuk uang saku. Besok kita akan menikmati
alam perbukitan bersama.” Ucapku pada Fadhli setelah menghitung jumlah laba yang kita dapatkan.
Fadhli tersenyum bahagia. Sambil menatap dan menggenggam erat tanganku, ia berujar, “Thanks ya Al…! aku gak akan melupakan kebaikanmu. Kamu bukan hanya sekedar teman bagiku. Tapi, lebih dari itu. You are the real friends.” Ucapnya padaku. Aku membalas senyuman fadhli dan mengangguk pelan.

***

Seperti hari-hari yang telah berlalu. Pagi ini matahari sudah mulai beraktivitas dengan memancarkan sinar terangnya ke sudut-sudut dunia. Ia selamatkan penduduk bumi dari belenggu kegelapan dengan cahayanya yang menyilaukan.
Hari ini, hari senin. Sesuai jadwal, anak-anak kelas XI SMA Batik 1 akan mengadakan camping di bukit Tawangmangu Indah. Siswa-siswi saling berceloteh dengan gayanya masin-masing. Aku tidak melihat dari mereka wajah-wajah yang murung. Semuanya bahagia. Tidak terkecuali aku. Kebahagiaanku melebihi apa yang mereka rasakan. Bukan karena aku akan menjadi petualang hutan rimba. Tapi, karena aku telah membantu seorang teman yang sedang kesusahan.
Truk yang akan mengangkut kami sudah stand by di halaman sekolahan sejak tadi pagi. Jarum jam terus berjalan. Namun, orang yang kunanti belum juga tiba. Padahal, dia telah berjanji akan menikmati alam perbukitan bersama. Aku tidak ingin kebahagiaanku berada di atas penderitaan orang lain. “Ada apa dengannya?” Bisikku dalam hati.
15 menit lagi truk akan berangkat. Tapi, Fadhli juga belum menampakkan batang hidungnya.
“Kemana sich kamu Fadh…? Jam segini belum datang.”
“teganya kamu membohongi aku.”
“Ah tidak-tidak. Kamu anak yang jujur. Gak mungkin kamu berkhianat.”
“Tapi, kamu sudah berjanji akan ikut camping. Uang untuk biaya camping juga sudah ada.”
“Kenapa lagi sich Fadh…? Apa uangnya hilang? Atau gimana?” Aku berdebat dengan batinku sendiri.
Mesin truk telah dinyalakan. Anak-anak kelas XI sudah berada di atas mesin yang menderu. Sebelum aku ikut berdesak-desakan dengan murid-murid yang lain, kusempatkan untuk menjelajahi seluruh sudut sekolahan dengan bola mataku. Untuk memastikan bahwa Fadhli tidak datang.
Aku merasa sepi di tengah keramaian para siswa. Beribu pertanyaan muncul di benakku. Apa yang terjadi? Bukankah dia sudah berjanji? Aku tak bisa merasakan bahagia, jika temanku sedang menderita atau kesusahan. Dan aku akan menjadi orang yang egois, jika aku bahagia tanpa menghiraukan orang lain. Itu sebabnya, aku berusaha mati-matian membantu si Fadhli untuk mencari uang guna biaya acara liburan. Yah…mau gimana lagi, yang penting aku sudah membantu semampuku.
“Al…!?” Tiba-tiba seseorang memanggilku dengan memegang pundakku. Aku yang sedang risau mendadak terkejut. Perlahan aku menolehkan pandanganku. Kuhela nafasku panjang. Dengan perlahan perasaan lega menyelinap di hatiku. Aku membalas senyumannya. Akhirnya, perjuanganku tak sia-sia. Kembali kuhela nafasku. Aku berangkat dengan perasaan bahagia.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s