BUKIT PENANTIAN

Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:, , , , , , , , , ,

Senja begitu indah terlukis di ujung barat dunia dengan sinar kemerahannya. Lukisan di ujung cakrawala itu akan bertambah indah jika kau menikmatinya dari bukit yang saat ini aku tempati. Sebut saja bukit Penantian. Kau bisa mengunjunginya kapan pun kau mau, tapi biasanya orang yang datang untuk menikmati lukisan senja di bukit penantian adalah mereka yang telah lama menanti perjumpaan dengan cintanya yang entah ada di mana. Atau mereka adalah orang-orang yang tak pernah mendapatkan kepastian, walau telah menanti selama seribu tahun kehadiran sosok yang amat ia rindukan.
Dua jam yang lalu aku tidak sendiri di atas bukit ini. Ada dua pasang muda-mudi dan satu turis asal Norwegia di tambah dengan seorang guide wanita yang memandu turis itu. Tapi mereka telah berlalu karena gerimis mendadak jatuh dari bentangan langit biru. Tidak deras benar, tapi cukup untuk membasahi dedaunan dan pohon-pohon pinus di sekitar bukit Penantian, termasuk tubuhku yang hanya mengenakan t-shirt warna putih dan celana The North Face ¾ warna hitam.
Aneh, walaupun ribuan bulir air berjatuhan dari angkasa, tidak membuat sinar senja surut dan sirna. Lihat! Tanganku masih bisa merasakan kehangatan sisa-sisa cahaya senja ini, tapi juga basah oleh titik-titik gerimis. Itu namanya hujan kethek, kata temen-temenku dulu.
Aku masih betah untuk berlama-lama di atas sini. Menikmati warna hijau dedaunan, marasakan hangatnya cahaya senja, membiarkan tubuh basah oleh bintik-bintik hujan, dan… membiarkan pikiranku tenang. Mencoba menerima dengan tulus apa yang telah Allah gariskan dalam hidupku.
Menatap senja yang bertemankan gerimis membuatku teringat beberapa kejadian. Sebenarnya bukan teringat secara kebetulan, tapi sengaja. Sengaja mengingat-ingat sesuatu yang telah membuatku kalut selama 12 bulan terakhir ini.
“jagung godhok Mas…?” seruan penjual jagung godhok itu mengagetkanku. Hawa hangat terpancar dari deretan jagung godhok itu. Aku menatapnya ramah dan tersenyum. Menggeleng pelan. Dia pun berlalu, menawarkan kepada pengunjung lain yang mungkin berselera untuk membeli jagung godhoknya sebagai teman ngobrol berdua. Ternyata aku tidak lagi sendiri. Sudah ada beberapa pasangan muda-mudi yang datang. Juga sudah ada satu, dua, tiga penjual makanan yang lain.
Aku kembali menatap bentangan alam yang mulai terselimuti kegelapan. Memoryku melesat jauh ke belakang. 12 bulan yang lalu. Aku masih ingat betul hari dan tanggalnya. Sabtu, 14 februari 2009. Pagi selepas shubuh, saat aku sedang santai sambil membaca buku karangan Ibnu Qayyim yang bertemakan hati. Tiba-tiba ponselku bordering. TILILIT…TILILIT… suara khas hp jadul, nokia 3310. Tak apalah, yang penting bisa untuk komunikasi. Dan itu merupakan fungsi hp nomor satu, yang lain hanya sunnah. Pikirku berusaha membasarkan hati.
Sepagi ini ada yang menelpon? Ah, paling Mas atau Ibu di kampong. Mereka biasa menghubungiku pagi hari. Entah apa alasan mereka berbuat demikian. Dulu ketika iseng aku bertanya, Mas Totok hanya menjawab, “Siang untuk bekerja, sedangkan malam untuk istirahat dan menyiapkan hari esok. Jadi, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk saling bertegur sapa.” Aku hanya tersenyum mendengar urain Mas Totok. Entah, apakah yang diseberang sana melihat senyum banggaku atau tidak? Dan saat aku tersenyum dan merasa bangga, yang di sebarang sana berujar, “ kamu pasti sedang tersenyum mendengar jawabanku. Dan kamu juga berpikir logis akan uraian singkatku?”
“jangan terlalu PD Mas! Tapi, memang begitulah kenyataannya…”
“Ha…ha…” dia tertawa penuh kemenangan. Mas Totok memang selalu tahu apa yang ada di pikiranku.
Hp jadul itu terus berdering. Menunggu pemiliknya menekan tuts warna hijau di bagian kira atas atau tuts warna merah di bagian kanan atas. Aku meraihnya yang tergeletak bebas di samping laptopku yang butut juga. Yah, semuanya butut. Nggak ada yang keluaran terbaru. Biarlah, yang penting bisa nulis. Nomor asing? Ternyata dugaanku salah. Bukan ibu, bukan juga kakak. Tumben jam segini ada yang menghubungiku? Aku tekan tuts warna hijau tanda menerima panggilan. Connecting… begitu tulisan yang terpampang di layar hp, sebagai tanda Anda telah terhubung dengan seseorang yang ada di seberang sana.
“Assalamu alaikum…?” seru seseorang yang berada di seberang sana. Tepatnya adalah seorang wanita. Merdu, lembut, dan… aku tidak mengenali nada suara seperti ini.
“E, wa alaikum salam… ini siapa dan ada perlu apa?” tanyaku sopan.
“E… anu ustadz… ini dari bagian rohis fakutas kedokteran UMS…” berhenti sejenak. “Apakah saya sedang bersama ustadz Zakky?” lanjutnya kemudian.
“Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu?” jawabku pelan berusaha tenang. Walaupun sebenarnya hati begitu deg-degan bercampur dengan penasaran. Dari mana dia tahu nomor hp ku?
“Bisa minta tolong untuk mengisi pengajian para mahasiswi di kampus nggak ustadz?”
“Mm… sebentar…” aku melihat jadwal kegiatanku yang terpampang indah di sebelah kalender. “Sepertinya jadwal saya kosong untuk nanti malam… insyaAllah bisa…” jelasku pada si suara lembut. “Jam berapa dan temanya tentang apa?”
“Ba’da isya’. Temanya tentang valentine day dan remaja hari ini.”
“Tempat?”
“Masjid Fathurrahman UMS.”
“Masjid yang berlokasi di kampus 1 ya…?”
“Iya…”
“InsyaAllah…”
“Jazakallah…”
KLIK! Panggilan terputus. Obrolan singkat. Seperlunya dan tidak berlebihan, bahkan terkesan kaku dan tegas. Setegas apapun apa pun si suara lembut itu mengeluarkan kata-katanya, tetap saja terdengar lembut. Dan kabar buruknya, suara lembut itu masih terngiang indah di lipatan-lipatan otakku. Siapa si pemilik suara lembut itu dan dari mana dia tahu nomorku? Ah, biarlah. Nggak usah dipikirkan. Memikirkannya hanya akan membuat hati ini keruh dan mengurangi nilai keikhlasan. Aku berusaha menepis bujuk rayu musuh utama manusia yang dikenal dengan nama syaithan itu.
###
Adzan sayup terdengar merdu. Mengalun indah memenuhi sudut-sudut bumi. Terdengar hingga radius sekian ratus meter. Nabi pernah bersabda tentang keutamaan seorang muadzin. “Seorang muadzin akan mendapatkan ampunan sejauh suaranya terdengar…”
Sudah sepuluh menit aku menyusuri jalanan kota solo. Gading – Laweyan – Kleco – pabelan. Sisa-sisa gerimis membuat aspal semakin licin. Maklum lagi musim hujan. Akhirnya sampai juga di area kampus. Mendengar sang muadzin mengumandangkan iqamah, aku bergegas mengambil air wudhu, masuk masjid, dan langsung bergabung ke dalam shaf shalat. Betapa damainya hati seorang hamba, manakala mampu menikmati makna dari setiap bacaan dan gerakan shalat. Yang tadinya sebuah kewajiban, kini menjadi sebuah kebutuhan. Jiwa serasa terbelah jika tidak melaksanakan kewajiban shalat ini dengan cara berjamaah di masjid.
Seusai shalat ba’diyah, aku duduk di sudut belakang dengan tubuh terbungkus jaket Rei kesayanganku. Aku membolak-balik lembaran makalah tentang V-day yang telah ku siapkan sebelumnya. Masih ada sisa waktu 30 menit untuk mematangkan persiapan. Terutama mempersiapkan hati, karena yang akan menjadi mad’u adalah para mahasiswi yang masih lajang-lajang. Dan aku sendiri pun masih bujang. Wah, kalau tidak pandai-pandai menjaga hati dan pandangan, bisa-bisa tergiur oleh bisikan setan.
Penampilan pertamaku di kampus UMS memuaskan. Tidak nervous di depan para akhwat, karena mereka ada di balik hijab yang menghalangi pandangan untuk saling bertemu. Dan untuk selanjutnya, aku diminta untuk mengisi pengajian rutin setiap malam ahad di kampus itu. Dari sinilah semua cerita itu bermula…
Seringnya bersinggungan dengan para mahasiswi binaan menjadikan interaksi dengan lawan jenis tak terelakkan. Apalagi saat membuat even-even dan acara-acara di kampus, yang menuntut untuk saling berhubungan via hp. Kabar baiknya, aku hanya berinteraksi dengan satu akhwat saja. Ya, dia si suara lembut yang biasa menghubungiku sebagai jubir para akhwat. Dan kabar buruknya, kami menjadi semakin dekat. Sebenarnya bukan semakin dekat, tapi merekalah para kahwat yang telah sengaja menjodoh-jodohkan kami. Sekali lagi kami berhubungan hanya untuk membicarakan acara dan jadwal pengajian. Tidak lebih. Untuk urusan nama, kami tidak pernah memperbincangkannya. Itu pun tetap berefek samping.
“Mbak, sepertinya Mbak cocok sama ustadz Zakky…” celetuk salah seorang temannya ketika sedang ngumpul bareng di kos-kosan.
“Hush…” saut si suara lembut. “Nggak baik membicarakan orang.”
“Iya Mbak Nisa’, Mbaklah yang paling pantas untuk mendapatkan ustadz Zakky.” Yang jadi objek pembicaraan hanya memandang lembut teman-temannya satu per satu. Tersenyum lembut. Tatapannya menyiratkan akan kebijaksanaan seorang pemimpin. Dia, si suara lembut memang memiliki jiwa seorang manager. Mengatur dengan rapi dan memutuskan dengan bijak. siapa sich yang tidak ingin menjadi isteri ustadz dan dai seperti dia? Katanya dalam hati.
“Ya,kalau Mbak sih, terserah Allah saja. Kalau memang dia ditakdirkan menjadi suami Mbak…” kata-katanya terputus. Ia melanjutkan kata-katanya dengan senyum yang tertahan.
“Ciye…” sahut temen-temennya serempak.
Itu efek samping yang tidak bisa dihindari. Dan semakin hari semakin bertambah tinggi tensi menjodoh-jodohkannya itu. Ini tidak adil, mereka tahu seperti apa jati diriku, sedangkan aku, aku tidak tahu seperti apa rupa si pemilik suara lembut itu. Yang mana pula yang namanya Nisa’? yang aku tahu hanya nomor penselnya, karena nomor itu yang selalu dia gunakan untuk menghubungiku. Dan satu lagi yang aku tahu, ternyata si suara lembut bukan sekedar jubirnya para akhwat, tapi ketua koorditor lapangan. Itu saja yang aku tahu tentang si suara lembut. Nama, nomor ponsel, dan jabatan dia di kampus. Wajah dan rupa, gimana mau tahu. Ada banyak akhwat di sana. Mungkin sesekali pernah melihat tanpa sengaja, tapi tidak tahu mana yang beiasa menghubungiku untuk jadwal pengajian.
Suasana saperti itu aku ketahui berdasarkan laporan dari beberapa kawan yang kuliah di UMS. Bakal terjadi kekacauan kalau keadaan ini dibiarkan begitu saja, pikirku. Demi menjaga hati, aku pun melakukan shalat isikharah dan berdoa kepada Dzat yang Maha tahu. Konsultasi ke beberapa kawan dan meminta pertimbangan kepada ustadz senior.
Kawan-kawan oke. Ustadz-ustadz menyetujui. Tapi hati masih bimbang, karena sampai hari ini, Allah belum memberikan kepastian melalui mimpi-mimpiku di sepertiga malam terakhir. Setelah berpikir keras menentukan keputuan, akhirnya aku pun mengajukan lamaran kepada si suara lembut. Sampai saat itu, aku belum tahu seperti apa rupanya. Supaya berhubungan via hp tidak menjadi fitnah.
Lamaranku masuk melalui murabbiahnya, yang tak lain adalah isteri ustadzku. Inilah tahap kedua dari semua cerita ini. Sebenarnya si suara lembut menyambut pinanganku dengan senang hati. Ia begitu gembira. Permasalahannya ada di kedua orang tuanya. Mereka tidak mengijinkan kalau anak putrinya menikah sebelum kuliahnya selesai. Beralaskan financial dan belajarnya terganggu, lamaranku kandas.
Sedih dan kecewa mendera hati dan pikiran. Tapi ada yang membahagiakan. Si suara lembut memintaku untuk menunggu. Ia berjanji akan meyakinkan kedua orang tuanya, supaya anak putrinya diijinkan untuk menikah denganku.
Satu bulan, dua bulan… ia tak pernah lelah untuk terus membujuk dan merayu. Aku berdoa supaya usahanya menuai hasil. Melihat usahanya yang tak kenal putus asa, benih-benih cinta yang tumbuh di hatiku semakin subur. Semakin besar rasa cintaku padanya. Dan aku pun yakin dia merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.
HA…HA…HUUU…WKWKWKWK… suara candaan dan gelak tawa gerombolan anak-anak muda telah menarik jiwaku dari masa lalu ke dimensi nyata. Aku menoleh sebentar. Bukit penantian menjadi lebih ramai dari beberapa menit yang lalu. Cahaya senja belum menghilang sempurna. Aku kembali menatap eksotisme alam yang penuh dengan warna hijau. Menerawang jauh, hingga tak terasa jiwaku melesat berpilin dengan keceptan tinggi ke dimensi masa lalu.
Cerita ini harus selesai sebelum adzan maghrib berkumandang dengan indah. Sampai di mana tadi? Ah ya. Cinta. Aku jatuh cinta kepada si suara lembut. Dan aku yakin dia pun begitu, jatuh cinta kepadaku. Sakali lagi, aku belum pernah melihat seperti apa rupanya. Aku jatuh cinta bukan karena penampilannya, tapi aku jatuh cinta karena dia telah berjuang dengan gigi meyakinkan orang tuanya supaya bisa bersanding dengan diriku di kursi pelaminan nanti.
Ah, cinta. Gara-gara cinta aku rela menunggu sesuatu yang masih samar ujung akhirnya. Akan ku tunggu hingga batas akhir kesabaranku habis. Aku tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan tanpa lelahnya, membujuk kedua orang tuanya yang tetap tidak mengijinkan puteri tunggalnya menikah sebelum kuliahnya selesai.
Hari terus bergulir tanpa henti. Tiga bulan berlalu tanpa hasil. Aku masih menanti kepastian dengan sabar. Lima bulan juga lewat tanpa kabar baik. Kesabaran kami masih sekuat karang di tepian laut. Ia sabar merayu dan membujuk kedua orang tuanya. Dan aku sabar menanti kabar baik itu datang menyapa.
Dua belas bulan sudah aku menanti kabar baik itu datang. Waktu yang lama untuk sebuah penantian. Menunggu satu jam saja, rasanya sudah seperti satu tahun. Apa lagi menunggu selama dua belas bulan. Bayangkan…
Kesabaranku mencapai titik akhir paling riskan. Aku sudah tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi. Habis kesabaranku bukan berarti aku menjadi marah dan membencinya. Aku masih tetap mencintainya. Sungguh tak akan pudar rasa cintaku ini, karena dia telah membuatku kagum segalanya. Tentang suara lembut di pagi hari saat pertama kali menelpon, tentang kehebatannya dalam berorganisasi, tentang kecerdasannya sehingga enjadi rujukan kawan-kawannya di kampus, tentang kegigihannya meraih cintanya, dan tentang… segalanya.
Umurku kini menginjak 27 tahun. Itu artinya tiga tahun lagi aku berkepala tiga. Sudah lebih dari cukup untuk memulai membina rumah tangga.
Dengan pikiran setengah putus asa, aku pun akhirnya melamar akhwat lain. Prosesnya mudah. Dia menerima pinanganku dan orang tuanya pun setuju. Kami membicarakan hari H-nya. Ini kesalahan fatal yang aku buat, yang menjadikan cerita ini semakin runyam, berantakan tak berbentuk. Aku tidak memberitahukan keputusanku melamar akhwat lain kepada usatdz yang menjadi perantara antara aku dengan si suara lembut.
Ah, semua jadi kacau. Kau tahu tentang kabar baik yang selalu ku tunggu? Kabar baik yang telah ku tunggu selama 12 bulan? Ya, kau pasti sudah tahu, karena aku telah menceritakannya di awal tadi. Seandainya aku menambah daya tahan kesabaranku sepuluh hari lagi, niscaya ceritanya tidak akan serunyam sekarang. Mungkin akan bahagia. Masih mungkin, karena takdir hanya Allah yang tahu. Tapi setidaknya harapan akan kebahagiaan bisa diperkirakan dan dengan usah plus do’a. Sekali lagi, ceritanya kini runyam. Serunyam pintalan benang tempo dulu.
Sepuluh hari setelah aku mengalihkan lamaran ke akhwat lain dan siap untuk aqad, kabar baik itu datang.
“Zakky, gimana? Ada kabar bahwa orang tua si akhwat akhirnya mengijinkan untuk menikah.” Kata ustadz yang menjadi perantara di suatu siang.
“Gimana tadz…?”
“Orang tuanya sudah merestui anak gadisnya untuk menikah denganmu.”
BLAAAAR…hening sesaat. Aku merutuki diriku sendiri yang tidak konsultasi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
“Heh, gimana? Kok malah bengong. Bukannya dulu kamu terus mengejar-ngejarnya.”
Aku menahan gejolak yang tak karuan. Entah apa yang ku rasakan saat ini. Harusnya ini adalah kabar baik jika datangnya sepuluh hari yang lalu. Tapi jika datangnya hari ini, kabar baik itu berubah menjadi kabar buruk. Aku dihadapkan pada dua permasalahan. Di satu sisi aku ingin bersanding dengan seseorang yang telah membuatku jatuh cinta, tapi di sisi lain, aku tidak mungkin membatalkan pernikahanku yang tinggal menunggu hari.
“Saya sudah terlanjur melamar akhwat lain dan sudah siap hari pernikahannya ustadz…” Jawabku pelan dengan muka tertunduk lesu.
“Gimana Zak…? Yang bener saja!” Suaranya meninggi. Aku hanya bisa diam. mengumpulkan energy supaya kuat dengan apa yang akan terjadi.
“Jangan main-main dengan pernikahan!” bentaknya lagi. Dia memalingkan wajahnya berusaha menenangkan amarah dalam hatinya.
“Benarkah kamu telah melamar akhwat lain dan sudah terjadi kesepakatan?” suaranya lebih rendah. Santun dan begitu menenangkan. Tak bisa ku percaya, secepat itu ustadz mampu meredam amarahnya.
Aku masih belum menjawab. Terdiam seribu bahasa. Bukannya lupa dengan berbagai macam kosa kata, tapi lidah kelu untuk mengucapkannya.
“Jika benar apa yang kamu sampaikan tadi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat mendengan kabar ini.”
“Maafkan saya ustadz, saya yang salah. Saya tidak konsultasi dulu ke ustadz.”
“12 bulan memang bukan waktu yang pendek. Saya yakin kamu pun merasakan kegalauan saat menuggu kepastian selama itu. Saya bisa memakluminya. Hanya saja, saya masih bingung bagaiman cara menjelaskan kepada dia supaya tidak syok mendengar kabar ini.”
###
Pernikahanku berlangsung sesuai dengan hari yang telah kami tentukan. Kami hidup bahagia, siap membangun keluarga yang sakinah dan berharap Allah memberi kami karunia berupa anak-anak penyejuk bola mata. Ada yang terlewat. Aku masih sempat kepikiran tentang si suara lembut. Ah, bagaimana kabarnya? Apakah dia sudah menikah? Apakah dia kecewa dan membenciku?
Di suatu sore, ketika aku baru pulang dari mengisi pengajian, aku mendapati isteriku sedang bercakap-cakap ria dengan teman akhwatnya di teras rumah. Aku memasuki halaman. Menatap isteriku sambil tersenyum, ia pun membalas senyumku. Berdiri dan menyambut kedatanganku. Aku bertatapan dengan teman isteriku sekilas, kemudian langsung masuk ke rumah. Matanya menandakan dia lebih dewasa dari isteriku dan memiliki guratan seorang pemimpin.
Setelah teman akhwatnya pulang, aku bertanya “Tadi siapa dik?”
“Oh, itu temen adik di kampus. Satu fakultas dan satu kelas, bahkan satu kos-kosan sebelum adik menikah dengan Mas.”
“Makanya, kelihatan akrab sekali.”
“Iya Mas, Mbak Nisa’ memang temen adik yang paling deket. Dia selalu mau ndengarin keluh kesah adik. Mbak Nisa’ juga tidak sungkan-sungkan mengulurkan bantuan untuk akhwat-akhwat lain yang lagi kena masalah.”
“Siapa tadi…?”
“Nisa’… Nisau saidah… dia sebagai korda mahasiswi di kampus.”
“O…” aku hanya ber-o mendengar penjelasan dari isteriku. Otakku langsung dipenuhi dugaan. Apakah Nisa’ temen isteriku adalah Nisa’ yang telah membuatku menunggu lama? Apakah temen isteriku itu adalah akhwat yang telah ku sakiti hatinya? Yang telah ku buat hatinya kecewa? Apakah…
Si suara lembut memang wanita yang baik. Dia tetap tenang dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahkan dia tidak pernah menceritakan tentang pangeran yang ingkar janji kepada teman-temannya di kampus dan teman-temannya satu halaqah. Tentang siapa pangeran yang ingkar janji itu, dia memendamnya dalam-dalam. Ia bungkus dengan kertas kado terindah, supaya terlihat menyenangkan. Diikat dengan pita warna merah sebagai tanda kado cinta. Lantas ia letakkan kado itu di ruangan paling dalam di hatinya. Ia simpan dengan hati-hati, supaya tidak tersembul keluar tanpa terduga. Tidak ada yang tahu kecuali dia sendiri, ustadzku, dan orang tuanya.
Selesai sudah cerita runyam ini. Cerita tentang penantian panjang. Cerita tentang pengeran yang ingkar janji. Cerita tentang perjuangan. Dan yang terakhir adalah cerita tentang penerimaan. Menerima semua garis takdir yang telah ditetapkan ribuan tahun sebelum anak manusia itu dilahirkan. Dan tahukah kau, bahwa ada kabar baik yang masih tersisa di sepenggal kisah runyam ini? Iya, kabar baik itu adalah si suara lembut kini telah menikah dengan sahabatku. Sahabat yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Sahabat yang selalu setia menasihatiku saat aku sedang terpuruk. Seorang sahabat yang tidak sungkan-sungkan mengulurkan tangannya saat teman-teman ikhwan yang lain terkena masalah.
Dia baru menikah siang tadi. Mungkin sekarang dia sedang asyik bersandar di bahu suaminya untuk melepas lelah setelah seharian melayani tamu-tamu undangan. Semoga bahagia selalu.
Selesai sudah cerita ini. Kini ijinkan aku pulang sebelum adzan berkumandang. Isteriku telah menantiku di rumah. Dan aku pun ingin mengunjungi pengantin baru itu bersama isteriku. Telah ku siapkan kado terbaik bagi pasangan baru itu. Mempelai laki-lakinya adalah sahabat terbaikku, sedangkan mempelai wanitanya adalah seseorang yang pernah kubuat kecewa hatinya dan aku sempat jatuh cinta padanya. Yang pasti, telah kusiapkan Kado special buat mereka berdua. Terima kasih sudah mau mendengarkan kisah singkat ini.
###

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s